Selasa, 15 September 2015

sungai

SUNGAI
Disusun oleh : Kelompok
 (XII-TKK)
Angota kelompok :     1. M. Arif Intan S       (        )
2. Nuris Khusairi       (         )
3. Riyan Anugrah      (         )
4. Rizal Taufik                     (        )







SMKN 3 JOMBANG




KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami panjatkan ke khadirat Allah swt atas berkat dan rahmatnya kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “ Perkembangan Pers Pada Masa Pra Kemerdekaan Indonesia “. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas dari pengajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
Dalam Penyusunan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan - kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penyusun. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan penyusunan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada :

1.      Bapak santoso
2.      Teman kami santoso
3.      Dan juga orang tua
Akhirnya penyusun berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.






Daftar isi
BAB 1
Ø  PENDAHULUAN. . . . . . . . . . ……………………………………………                         1
Ø  Tujuan Makalah dan Rumusan Masalah……………………………………             2
BAB II
Ø  Apa yang di maksud dengan sungai. . . . . . . . . . . . ………………………               3
Ø  Ciri- ciri sungai. . . . . . . . . . . ………………………              3
Ø  Komponen ekosistim sungai. . . . . . . . . . . ………………………                 3
Ø  Dampak ekspoitasi berlebihan pada sungai . . . . . . . . . . . …………
BAB III
Ø  Kesimpulan Dan Saran . . . . . . . ……………………………………………            8





BAB 1
PENDAHULUAN
Latar belakang
Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaituoikos yang artinya  rumah  atau  tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Definisi ekologi seperti di atas, pertama kali disampaikan oleh Ernest Haeckel (zoologiwan Jerman, 1834-1914). Ekologi adalah cabang ilmu biologi yang banyak memanfaatkan informasi dari berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti : kimia, fisika, geologi, dan klimatologi untuk pembahasannya. Penerapan ekologi di bidang pertanian dan perkebunan di antaranya adalah penggunaan kontrol biologi untuk pengendalian populasi hama guna meningkatkan produktivitas. Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dengan lingkungannya. Pengamatan ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip yang terkandung dalam hubungan timbal balik tersebut.
Dalam studi ekologi digunakan metoda pendekatan secara rnenyeluruh pada komponen-kornponen yang berkaitan dalam suatu sistem. Ruang lingkup ekologi berkisar pada tingkat populasi, komunitas, dan ekosistem. Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktora biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer. Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistemyang menunjukkan kesatuan. Secara lebih terperinci, tingkatan organisasi makhluk hidup. Ada bermacam-macam adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya, yaitu: adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku.




B.    Rumusan Masalah
Apa yang di maksud dengan sungai
Ciri- ciri sungai
Komponen ekosistim sungai
Dampak ekspoitasi berlebihan pada sungai



C.    Tujuan Makalah
Menjelaskan tentang sungai
Menjelaskan tentang Ciri- ciri sungai
Menjelaskan tentang Komponen ekosistim sungai
Menjelaskan tentang Dampak ekspoitasi berlebihan pada sungai

Baab II
Pembahasan

Yang Di Maksud Dengan Sungai
Sungai adalah aliran air yang besar dan memanjang yang mengalir secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara).
Ada juga sungai yang terletak di bawah tanah, disebut sebagai "underground river". Misalnya sungai bawah tanah di Gua Hang Soon Dong di Vietnam, sungai bawah tanah di Yucatan (Meksiko), sungai bawah tanah di Gua Pindul (Filipina).
Pada beberapa kasus, sebuah sungai secara sederhana mengalir meresap ke dalam tanah sebelum menemukan badan air lainnya. Melalui sungai merupakan cara yang biasa bagi air hujan yang turun di daratan untuk mengalir kelaut atau tampungan air yang besar seperti danau. Sungai terdiri dari beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai. Beberapa anak sungai akan bergabung untuk membentuk sungai utama. Aliran air biasanya berbatasan dengan saluran dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan. Pengujung sungai di mana sungai bertemu laut dikenali sebagai muara sungai.
Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan, embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu juga berasal dari lelehan es/salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan.
Kemanfaatan terbesar sebuah sungai adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya potensial untuk dijadikan objek wisata sungai. Di Indonesia saat ini terdapat 5.950 daerah aliran sungai (DAS).
Ciri- ciri sungai
Ciri ciri berdasarkan pembagian daerahnya, sungai memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)    daerah hulu sungai memiliki ciri-ciri:
a.    Berada pada daerah yang lebih tinggi
b.    Aliran airnya deras
c.    Memiliki daya erosi yang kuat, jenis erosinya vertikal
d.    Lembah sungainya berbentuk v
e.    Terdapat air terjun.
2)    daerah tengah sungai memiliki ciri-ciri:
a.    Jenis erosinya vertikal dan horizontal
b.    Kecepatan aliran sungai berkurang
c.    Lembah sungai berbentuk u
d.    Tidak terdapat air terjun
e.    Pada kiri dan kanan sungai terdapat dataran yang agak lebar.
3)    daerah hilir sungai memiliki ciri-ciri:
a.    Jenis erosi horizontal
b.    Sungainya berkelok-kelok
c.    Aliran sungai lemah
d.    Terdapat sedimentasi dan terbentuknya delta.



Komponen Komponen
komponen-komponen pembentuk ekosistem adalah:

Abiotik

Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungantempat hidup. Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya.  Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang memengaruhi distribusi organisme, yaitu:
1.     Suhu. Proses biologi dipengaruhi suhu. Mamalia dan unggas membutuhkan energi untuk meregulasi temperatur dalam tubuhnya.
2.     Air. Ketersediaan air memengaruhi distribusi organisme. Organisme di gurun beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun.
3.     Garam. Konsentrasi garam memengaruhi kesetimbangan air dalam organisme melalui osmosis. Beberapa organisme terestrial beradaptasi dengan lingkungan dengan kandungan garam tinggi.
4.     Cahaya matahari. Intensitas dan kualitas cahaya memengaruhi proses fotosintesis. Air dapat menyerap cahaya sehingga pada lingkungan air, fotosintesis terjadi di sekitar permukaan yang terjangkau cahaya matahari. Di gurun, intensitas cahaya yang besar membuat peningkatan suhu sehingga hewan dantumbuhan tertekan.
5.     Tanah dan batu. Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber makanannya di tanah.
6.     Iklim. Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area. Iklim makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro meliputi iklim dalam suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu.

Biotik

Biotik adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang hidup (organisme). Komponen biotik adalah suatu komponen yang menyusun suatu ekosistem selain komponen abiotik (tidak bernyawa). Berdasarkan peran dan fungsinya, makhluk hidup dibedakan menjadi dua macam, yaitu:



Dampak ekploitasi berlebihan pada ekosistem

sungai

Eksploitasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti "pengusahaan; pendayagunaan; pemanfaatan untuk keuntungan sendiri"; "pengisapan"; "pemerasan (tenaga manusia)". Eksploitasi dalam bahasa Inggris (exploitation) berarti "politik pemanfaatan yang secara sewenang-wenang atau terlalu berlebihan terhadap suatu subyek, hanya untuk kepentingan ekonomi semata-mata tanpa mempertimbangan rasa kepatutan, keadilan, serta kompensasi kesejahteraan." Eksploitasi berlebihan terjadi ketika sumber daya yang dikonsumsi telah berada pada tingkat yang tidak berkelanjutan.
Tidak hanya ekosistem darat yang dapat mengalami eksploitasi berlebihan. Ekosistem akuatik seperti laut, sungai, danau, dan perairan lainnya dapat mengalami hal yang serupa. Eksploitasi sumber daya akuatik dapat berupa penangkapan organisme laut secara berlebihan. Penangkapan organisme laut (seperti ikan konsumsi maupun ikan hias) dan pengambilan terumbu karang dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan lingkungan di ekosistem laut.[2][3]
Organisme yang beragam hidup di terumbu karang. Namun, terumbu karang demikian rapuh terhadap kerusakan karena pertumbuhannya lambat, mudah terganggu, dan hanya hidup pada perairan yang dangkal, hangat, dan bersih.
Terumbu karang hanya dapat hidup pada perairan dengan suhu 18 — 30 °C. Kenaikan suhu sebesar 1 °C dari batas maksimum dapat menyebabkan kerusakan terumbu karang. Rusaknya terumbu karang akan menyebabkan hilangnya tempat tinggal bagi organisme yang ada pada ekosistem terumbu karang.
Ancaman lain yang dapat mengganggu ekosistem perairan adalah penggunaan ekosistem perairan sebagai daerah wisata. Penetapan daerah wisata perairan dapat dikatakan sebagai eksploitasi karena apabila daerah wisata tersebut tidak dikelola dengan balk maka akan mengganggu keberadaan organisme yang ada di ekosistem tersebut. Sebagai contoh, daerah wisata pantai di Bali atau wilayah Jakarta bagian utara yang ekosistem alaminya telah terganggu oleh aktivitas manusia yang berlebihan. Kedua pantai tersebut telah tercemar oleh sampah yang dibuang pengunjung tempat wisata tersebut.




BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sungai adalah aliran air yang besar dan memanjang yang mengalir secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara).
Ciri Cirinya  Menyesuaikan Dengan Tempatnya

Abiotik

Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungantempat hidup

Biotik

Biotik adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang hidup (organisme).
SARAN
Ekosistim Sungai Haruslah Kita Jaga
Sumber :
http://www.dosenpendidikan.com/pengertian-jenis-dan-dampak-ekploitasi-sungai/




http://www.anneahira.com/images/rakun.jpg https://springocean83.files.wordpress.com/2012/07/slenderloris.jpg?w=300 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0IO3R1Eo-87Zy_OVn-5KYxgdHDJYSdgMh4-geW1W3vX6H3D4mZhmwVYB6lS1ucVime3x6Aw1B7hzdSVe5ZwTHM15ufLcfmTzjL_lrOY6LEQrrMta76tx_9QtPfLXjC4tBxHnHX-rqozd1/s1600/Blue-winged+Mountain+Tanager+(Anisognathus+somptuosus+cyanopterus)+Columbia+1.jpg http://www.portalsaofrancisco.com.br/alfa/floresta-temperada/imagens/Flores39.jpg https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgd9aHg7cLvI_Mt7cIvuvdPuYOeixnurg3CtjrAqG8dpeK9mpc_xO1pWvHnTwdNfGlcNqdFW_GJc2BAiqH6qVcrBIt2UjqQpYsIDSJpd5Xp1OJdLEJaMyJyxndXt_pgBlnTdU8uQbk_MTA/s640/maple+with+tupai.jpg http://ajimachmudi.files.wordpress.com/2010/10/ka5.jpg?w=213&h=300 https://aisyahtyasmaharani.files.wordpress.com/2014/04/86a25-bird-wallpaper-14.jpg?w=579&h=434 https://aisyahtyasmaharani.files.wordpress.com/2014/04/11e29-burung-tledekan.jpg?w=259&h=198 https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/d0/Malabar_Giant_Squirrel-Dogra.jpg/220px-Malabar_Giant_Squirrel-Dogra.jpg http://g02.a.alicdn.com/kf/HTB1AQVzJpXXXXXCXpXXq6xXFXXXr/Animal-autumn-forests-animals-wildlife-arctic-Canadian-wolves-4-Size-Wall-decoration-Canvas-Poster-Print.jpg
HUTAN BAKAU
Disusun oleh : Kelompok
 (XII-TKK)
Angota kelompok :     1. Achmad Thisar F  (        )
2. Candra Tri R         (         )
3. Dandi Asgor D       (         )
4. Cholis Masyuda     (        )







SMKN 3 JOMBANG




KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami panjatkan ke khadirat Allah swt atas berkat dan rahmatnya kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “ Perkembangan Pers Pada Masa Pra Kemerdekaan Indonesia “. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas dari pengajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
Dalam Penyusunan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan - kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penyusun. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan penyusunan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada :

1.      Bapak santoso
2.      Teman kami santoso
3.      Dan juga orang tua
Akhirnya penyusun berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.






Daftar isi
BAB 1
Ø  PENDAHULUAN. . . . . . . . . . ……………………………………………                         1
Ø  Tujuan Makalah dan Rumusan Masalah……………………………………             2
BAB II
Ø  Apa yang di maksud dengan hutan bakau. . . . . . . . . . . ………………………                    3
Ø  Ciri- ciri hutan bakau. . . . . . . . . . . ………………………                3
Ø  Komponen ekosistim hutan bakau. . . . . . . . . . . ………………………                    3
Ø  Dampak ekspoitasi berlebihan pada hutan bakau. . . . . . . . . . . …………
BAB III
Ø  Kesimpulan Dan Saran . . . . . . . ……………………………………………            8





BAB 1
PENDAHULUAN
Latar belakang
Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaituoikos yang artinya  rumah  atau  tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Definisi ekologi seperti di atas, pertama kali disampaikan oleh Ernest Haeckel (zoologiwan Jerman, 1834-1914). Ekologi adalah cabang ilmu biologi yang banyak memanfaatkan informasi dari berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti : kimia, fisika, geologi, dan klimatologi untuk pembahasannya. Penerapan ekologi di bidang pertanian dan perkebunan di antaranya adalah penggunaan kontrol biologi untuk pengendalian populasi hama guna meningkatkan produktivitas. Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dengan lingkungannya. Pengamatan ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip yang terkandung dalam hubungan timbal balik tersebut.
Dalam studi ekologi digunakan metoda pendekatan secara rnenyeluruh pada komponen-kornponen yang berkaitan dalam suatu sistem. Ruang lingkup ekologi berkisar pada tingkat populasi, komunitas, dan ekosistem. Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktora biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer. Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistemyang menunjukkan kesatuan. Secara lebih terperinci, tingkatan organisasi makhluk hidup. Ada bermacam-macam adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya, yaitu: adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku.




B.    Rumusan Masalah
Apa yang di maksud dengan hutan bakau
Ciri- ciri hutan bakau
Komponen ekosistim hutan bakau
Dampak ekspoitasi berlebihan pada hutan bakau



C.    Tujuan Makalah
Menjelaskan tentang hutan bakau
Menjelaskan tentang Ciri- ciri hutan bakau
Menjelaskan tentang Komponen ekosistim hutan bakau
Menjelaskan tentang Dampak ekspoitasi berlebihan pada hutan bakau

Baab II
Pembahasan

Yang Di Maksud Dengan Hutan Bakau
Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di air payau,dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya abrasi tanah;salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.
 Ciri- ciri Hutan Bakau
Hutan Mangrove
Hutan mangrove juga disebut hutan bakau atau hutan air payau. Hutan bakau tumbuh subur di daerah pantai berlumpur yang terlindung, terutama pada daratan menjorok ke laut. Di hutan ini zonasi jenis-jenis pohon yang mendominasi hampir sejajar dengan garis pantai.
Adapun ciri-ciri hutan bakau sebagai berikut.
a) Jenis tanahnya berlumpur, berlempung, atau berpasir  dengan bahan-bahan yang berasal
    dari lumpur, pasir, atau pecahan karang.
b) Lahannya tergenang air laut secara berkala setiap hari sampai daerah yang hanya tergenang
    saat pasang purnama.
c) Mendapat cukup pasokan air tawar dari darat yang  berfungsi untuk menurunkan salinitas
    serta menambah pasokan unsur hara dan lumpur.
d) Airnya payau dengan salinitas antara 2–22 ppm (1 ppm   = 0,05%) atau asin dengan
     salinitas mencapai 38 ppm.
Zona atau daerah hutan mangrove yang ke arah daratan,pada umumnya bercampur dengan rawa air tawar. Daerah semacam ini diduga ada kaitannya dengan salinitas dan sifatsifat tanah. Zonasi hutan mangrove di Jawa, Maluku, dan kemungkinan di pulau-pulau lainnya cenderung serupa dengan zona
hutan mangrove di Sumatra. Adapun hutan mangrove di Sumatra dibagi menjadi empat sebagai berikut.

a) Zona pionir, yang dirajai oleh api-api sering berasosiasi dengan perepat laut.
b) Zona burus, bakau, dan belabu/niri.
c) Zona nipah, yang juga sering berasosiasi dengan perepat laut.
d) Zona hutan rawa gambut.

Indonesia memiliki hutan bakau terluas di dunia, kemudian disusul Nigeria, Meksiko, dan Australia. Menurut perkiraan, luas hutan bakau di Indonesia mencapai 4,25 juta hektare (Giesen, 1993). Sekarang luas tersebut sudah mengalami penyusutan akibat berbagai alih fungsi lahan menjadi lahan pertambakan, pertanian, dan permukiman. Hutan bakau terluas di Indonesia terdapat di Papua (58%),
Sumatra (19%), dan Kalimantan (16%). Flora yang hidup di hutan bakau Indonesia meliputi 89
jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit, dan 1 sikas. Di hutan bakau terdapat 47 tumbuhan hutan bakau sejati, antara lain bakau, burus, palem, perepat, dan api-api.



Komponen Komponen Ekosistem Hutan Bakau
Fauna yang terdapat di ekosistem mangrove merupakan perpaduan antara fauna ekosistem terestrial, peralihan dan perairan.  Fauna terestrial kebanyakan hidup di pohon mangrove sedangkan fauna peralihan dan perairan hidup di batang, akar mangrove dan kolom air. Beberapa fauna yang umum dijumpai di ekosistem mangrove dijelaskan sebagai berikut:
·         Mamalia
Banyak mamalia terdapat di hutan mangrove tetapi hanya sedikit yang hidup secara permanen dan jumlahnya terbatas. Hutan mangrove merupakan habitat tempat hidup beberapa mamalia yang sudah jarang ditemukan dan. Pada saat terjadinya surut banyak monyet-monyet (Macacus irus) terlihat mencari makanan seperti shell-fish dan kepiting sedangkan kera bermuka putih (Cebus capucinus) memakan cockles di mangrove. Indikasi pemangsaan ini diperoleh dari sedikitnya jumlah cockles yang ditemukan di lokasi mangrove yang memiliki banyak kera. Jika jumlah kera menjadi sangat banyak akan mempengaruhi pembenihan mangrove karena komunitas ini menginjak lokasi yang memiliki benih sehingga benih mati. Kera proboscis (Nasalis larvatus) merupakan endemik di mangrove Borneo, yang mana ia memakan daun-daunan Sonneratia caseolaris dan Nipa fruticans (FAO,1982) juga propagul Rhizophora. Sebaliknya, kera-kera tersebut di mangsa oleh buaya-buaya dan diburu oleh pemburu gelap. Hewan-hewan menyusui lainnya termasuk Harimau Royal Bengal (Panthera tigris), macan tutul (Panthera pardus) dan kijing bintik (Axis axis), babi–babi liar (Sus scrofa) dan Kancil (Tragulus sp.) di rawa-rawa Nipa di sepanjang selatan dan tenggara Asia ; binatang-binatang karnivora kecil seperti ikan-ikan berkumis seperti kucing (Felix viverrima), musang (Vivvera sp. danVivverricula sp.), luwak (Herpestes sp.). Berang-berang (Aonyx cinera dan Lutra sp.) umum terdapat di hutan mangrove namun jarang terlihat. Sedangkan Lumba-lumba seperti lumba-lumba Gangetic (Platanista gangetica) dan lumba-lumba biasa (Delphinus delphis) juga umum  ditemukan di sungai-sungai hutan mangrove, yaitu seperti Manatees (Trichechus senegalensis danTrichechus manatus latirostris) dan Dugong (Dugong dugon), meskipun spesies-spesies ini pertumbuhannya jarang dan pada beberapa tempat terancam mengalami kepunahan.
·         Reptil dan Ampibia
Beberapa spesies reptilia yang pernah ditemukan di kawasan mangrove Indonesia antara lain biawak (Varanus salvatoe), Ular belang (Boiga dendrophila), dan Ular sanca (Phyton reticulates), serta berbagai spesies ular air sepertiCerbera rhynchopsArchrochordus granulatus,Homalopsis buccata dan Fordonia leucobalia. Dua jenis katak yang dapat ditemukan di hutan mangrove adalahRana cancrivora dan R. Limnocharis. Buaya-buaya dan binatang alligator merupakan binatang-binatang reptil yang sebagian besar mendiami daerah berair dan daerah muara. Dua spesies buaya (Lagarto), Caiman crocodilus (Largarto cuajipal) dapat dijumpai umum dijumpai di hutan mangrove, dan sebagai spesies yang berada dalam keadaan waspada karena kulitnya diperdagangkan secara internasional. Caiman acutus mempunyai wilayah geografi yang sangat luas dan dapat ditemukan di Cuba, Pantai lautan Pasifik di Amerika Tengah, Florida dan Venezuela. Jenis buaya Cuba, seperti Crocodilus rhombifer terdapat di Cienaga de Lanier dan bersifat endemik. Aligator Amerika seperti Alligator mississippiensis tercatat sebagai spesies yang membahayakan di Florida ( Hamilton dan Snedaker, 1984). Buaya yang memiliki moncong panjang (Crocodilus cataphractus) terdapat di daerah hutan bakau Afrika dan di Asia. Berbagai cara dilakukan untuk melindungi hewan-hewan tersebut tergantung negara masing-masing misalnya di India, Bangladesh, Papua New Guinea dan Australia mengadakan perlindungan dengan cara konservasi, ( FAO, 1982). Sejumlah besar kadal, Iguana iguana (iguana) dan Cetenosaura similis (garrobo) pada umumnya terdapat di hutan mangrove di Amerika Latin, dimana mereka menjadi santapan masyarakat setempat sebagaimana juga jenis kadal yang serumpun dengan mereka di Afrika bagian barat (Varanus salvator). Pada umumnya penyu merupakan sebagai mahkluk sungai yang meletakkan telur-telur mereka pada pantai berpasir yang memiliki hutan mangrove. Selain hewan-hewan tersebut ular juga dapat ditemukan di sekitar area mangrove, khususnya padadataran yang mengarah ke laaut.
·         Burung
Pada saat terjadinya perubahan pasang surut merupakan suatu masa yang ideal bagi berlindungnya burung (dunia burung), dan merupakan waktu yang ideal bagi burung untuk melakukan migrasi. Menurut Saenger et al. (1954), tercatat sejumlah jenis burung yang hidup di hutan mangrove yang mencapai 150-250 jenis. Beberapa penelitian tentang burung di Asia Tenggara telah dilakukan oleh Das dan Siddiqi 1985 ; Erftemeijer, Balen dan Djuharsa, 1988; Howes,1986 dan Silvius, Chan dan Shamsudin,1987. Di Kuba, terdapat beberapa spesies yang menempati tempat atau dataran tinggi seperti Canario  del manglar (Dendroica petechis gundlachi) dan tempat yang lebih rendah seperti  Oca del manglar (Rallus longirostris caribaeus). Burung yang paling banyak adalah Bangau yang berkaki panjang. Dan yang termasuk burung pemangsa adalah Elang laut (Haliaetus leucogaster), Burung layang-layang (Haliastur indus), dan elang pemakan ikan (Ichthyphagus ichthyaetus). Burung pekakak dan pemakan lebah adalah burung-burung berwarna yang biasa muncul atau kelihatan di hutan mangrove.
·         Sumber Daya Perairan
Substrat yang ada di ekosistem mangrove merupakan tempat yang sangat disukai oleh biota yang hidupnya di dasar perairan atau bentos. Dan kehidupan beberapa biota tersebut erat kaitannya dengan distribusi ekosistem mangrove itu sendiri. Sebagai contoh adalah kepiting yang sangat mudah untuk membuat liang pada substrat lunak yang ditemukan di ekosistem mangrove. Beberapa sumberdaya perairan yang sering ditemukan di ekosistem mangrove dijelaskan sebagai berikut:
a. Ikan
Ikan di daerah hutan mangrove cukup beragam yang dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu:
·         Ikan penetap sejati, yaitu ikan yang seluruh siklus hidupnya dijalankan di daerah hutan mangrove seperti ikan Gelodok (Periopthalmus sp.).
·         Ikan penetap sementara, yaitu ikan yang berasosiasi dengan hutan mangrove selama periode anakan, tetapi pada saat dewasa cenderung menggerombol di sepanjang pantai yang berdekatan dengan hutan mangrove, seperti ikan belanak (Mugilidae), ikan Kuweh (Carangidae), dan ikan Kapasan, Lontong (Gerreidae).
·         Ikan pengunjung pada periode pasang, yaitu ikan yang berkunjung ke hutan mangrove pada saat air pasang untuk mencari makan, contohnya ikan Kekemek, Gelama, Krot (Scianidae), ikan Barakuda, Alu-alu, Tancak (Sphyraenidae), dan ikan-ikan dari familia Exocietidae serta Carangidae.
·         Ikan pengunjung musiman, ikan-ikan yang termasuk dalam kelompok ini menggunakan hutan mangrove sebagai tempat asuhan atau untuk memijah serta tempat perlindungan musiman dari predator.
b. Crustacea dan Molusca
Berbagai jenis fauna yang relatif kecil dan tergolong dalam invertebrata, seperti udang dan kepiting (Krustasea), gastropoda dan bivalva (Moluska), Cacing (Polikaeta) hidup di hutan mangrove.  Kebanyakan invertebrata ini hidup menempel pada akar-akar mangrove, atau di lantai hutan mangrove. Sejumlah invertebrata tinggal di dalam lubang-lubang di lantai hutan mangrove yang berlumpur.  Melalui cara ini mereka terlindung dari perubahan temperatur dan faktor lingkungan lain akibat adanya pasang surut di daerah hutan mangrove.
Biota yang paling banyak dijumpai di ekosistem mangrove adalah crustacea dan moluska. Kepiting, Uca sp. dan berbagai spesies sesarma umumnya dijumpai di hutan Mangrove. Kepiting-kepiting dari famili Portunidae juga merupakan biota yang umum dijumpai. Kepiting-kepiting yang dapat dikonsumsi (Scylla serrata) termasuk produk mangrove yang bernilai ekonomis dan menjadi sumber mata pencaharian penduduk sekitar hutan mangrove. Udang yang paling terkenal termasuk udang raksasa air tawar (Macrobrachium rosenbergii) dan udang laut (Penaeus indicus , P. Merguiensis, P. Monodon, Metapenaeus  brevicornis) seringkali juga ditemukan di ekosistem mangrove.
Semua spesies-spesies ini umumnya mempunyai dasar-dasar sejarah hidup yang sama yaitu menetaskan telurnya di ekosistem mangrove dan setelah mencapai dewasa melakukan migrasi ke laut. Ekosistem mangrove juga merupakan tempat memelihara anak- anak ikan. Migrasi biota ini berbeda-beda tergantung spesiesnya. Udang Penaeus dijumpai melimpah jumlahnya hingga kedalaman 50 meter sedangkan Metapenaeus paling melimpah dalam kisaran kedalaman 11-30 meter dan Parapenaeopsis terbatas hanya pada zona 5-20 meter. Penaeid bertelur sepanjang tahun tetapi periode puncaknya adalah selama Mei – Juni dan Oktober- Desember yang bertepatan dengan datangnya musim hujan atau angin musim.  P. Merquiensis  setelah post larva ditemukan pada bulan November dan Desember dan setelah 3 – 4 bulan berada di mangrove mencapai juvenile dan pada bulan Maret sampai Juni  juvenil berpindah ke air yang dangkal. Setelah mencapai dewasa atau lebih besar, udang akan bergerak lebih jauh lagi keluar garis pantai untuk bertelur dengan kedalaman melebihi 10 meter.  Waktu untuk bertelur dimulai bulan juni dan berlanjut sampai akhir januari.
Molusca yang memiliki nilai ekonomis biasanya sudah jarang ditemukan di ekosistem mangrove karena dieksploitasi secara besar-besaran. Contohnya adalah spesies Anadara sp. saat ini jarang ditemukan di beberapa lokasi ekosistem mangrove karena dieksploitasikan secara berlebihan.  Bivalva lain yang paling penting di wilayah mangrove adalah kerang darah (Anadara granosa) dan gastropoda yang biasanya juga dijumpai terdiri dariCerithidia obtusa, Telescopium mauritsii dan T. telescopium. Kerang-kerang ini merupakan sumber daya yang penting dalam produksi perikanan, dan karena mangrove mampu menyediakan substrat sebagai tempat berkembang biak yang sesuai, dan sebagai penyedia pakan maka dapat mempengaruhi kondisi perairan sehingga menjadi lebih baik. Kerang merupakan sumberdaya penting dalam pasokan sumber protein dan sumber penghasilan ekonomi jangka panjang. Untuk penduduk sekitar  pantai menjadikan kerang sebagai salah satu jenis yang penting dalam penangkapan di wilayah mangrove (Dedi, 2007).

Dampak ekploitasi berlebihan pada ekosistem

sungai

Eksploitasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti "pengusahaan; pendayagunaan; pemanfaatan untuk keuntungan sendiri"; "pengisapan"; "pemerasan (tenaga manusia)". Eksploitasi dalam bahasa Inggris (exploitation) berarti "politik pemanfaatan yang secara sewenang-wenang atau terlalu berlebihan terhadap suatu subyek, hanya untuk kepentingan ekonomi semata-mata tanpa mempertimbangan rasa kepatutan, keadilan, serta kompensasi kesejahteraan." Eksploitasi berlebihan terjadi ketika sumber daya yang dikonsumsi telah berada pada tingkat yang tidak berkelanjutan.
Tidak hanya ekosistem darat yang dapat mengalami eksploitasi berlebihan. Ekosistem akuatik seperti laut, sungai, danau, dan perairan lainnya dapat mengalami hal yang serupa. Eksploitasi sumber daya akuatik dapat berupa penangkapan organisme laut secara berlebihan. Penangkapan organisme laut (seperti ikan konsumsi maupun ikan hias) dan pengambilan terumbu karang dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan lingkungan di ekosistem laut.[2][3]
Organisme yang beragam hidup di terumbu karang. Namun, terumbu karang demikian rapuh terhadap kerusakan karena pertumbuhannya lambat, mudah terganggu, dan hanya hidup pada perairan yang dangkal, hangat, dan bersih.
Terumbu karang hanya dapat hidup pada perairan dengan suhu 18 — 30 °C. Kenaikan suhu sebesar 1 °C dari batas maksimum dapat menyebabkan kerusakan terumbu karang. Rusaknya terumbu karang akan menyebabkan hilangnya tempat tinggal bagi organisme yang ada pada ekosistem terumbu karang.
Ancaman lain yang dapat mengganggu ekosistem perairan adalah penggunaan ekosistem perairan sebagai daerah wisata. Penetapan daerah wisata perairan dapat dikatakan sebagai eksploitasi karena apabila daerah wisata tersebut tidak dikelola dengan balk maka akan mengganggu keberadaan organisme yang ada di ekosistem tersebut. Sebagai contoh, daerah wisata pantai di Bali atau wilayah Jakarta bagian utara yang ekosistem alaminya telah terganggu oleh aktivitas manusia yang berlebihan. Kedua pantai tersebut telah tercemar oleh sampah yang dibuang pengunjung tempat wisata tersebut.




BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sungai adalah aliran air yang besar dan memanjang yang mengalir secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara).
Ciri Cirinya  Menyesuaikan Dengan Tempatnya

Abiotik

Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungantempat hidup

Biotik

Biotik adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang hidup (organisme).
SARAN
Ekosistim Sungai Haruslah Kita Jaga
Sumber :
http://ekosistem-ekologi.blogspot.co.id/2013/02/berkenalan-dengan-ekosistem-mangrove.html/




http://www.anneahira.com/images/rakun.jpg https://springocean83.files.wordpress.com/2012/07/slenderloris.jpg?w=300 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0IO3R1Eo-87Zy_OVn-5KYxgdHDJYSdgMh4-geW1W3vX6H3D4mZhmwVYB6lS1ucVime3x6Aw1B7hzdSVe5ZwTHM15ufLcfmTzjL_lrOY6LEQrrMta76tx_9QtPfLXjC4tBxHnHX-rqozd1/s1600/Blue-winged+Mountain+Tanager+(Anisognathus+somptuosus+cyanopterus)+Columbia+1.jpg http://www.portalsaofrancisco.com.br/alfa/floresta-temperada/imagens/Flores39.jpg https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgd9aHg7cLvI_Mt7cIvuvdPuYOeixnurg3CtjrAqG8dpeK9mpc_xO1pWvHnTwdNfGlcNqdFW_GJc2BAiqH6qVcrBIt2UjqQpYsIDSJpd5Xp1OJdLEJaMyJyxndXt_pgBlnTdU8uQbk_MTA/s640/maple+with+tupai.jpg http://ajimachmudi.files.wordpress.com/2010/10/ka5.jpg?w=213&h=300 https://aisyahtyasmaharani.files.wordpress.com/2014/04/86a25-bird-wallpaper-14.jpg?w=579&h=434 https://aisyahtyasmaharani.files.wordpress.com/2014/04/11e29-burung-tledekan.jpg?w=259&h=198 https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/d0/Malabar_Giant_Squirrel-Dogra.jpg/220px-Malabar_Giant_Squirrel-Dogra.jpg http://g02.a.alicdn.com/kf/HTB1AQVzJpXXXXXCXpXXq6xXFXXXr/Animal-autumn-forests-animals-wildlife-arctic-Canadian-wolves-4-Size-Wall-decoration-Canvas-Poster-Print.jpg