
Disusun oleh : Kelompok
(XII-TKK)
Angota kelompok : 1.
Achmad Thisar F ( )
2. Candra Tri R ( )
3. Dandi Asgor D (
)
4. Cholis Masyuda ( )
SMKN 3 JOMBANG
KATA PENGANTAR
Puji
serta syukur kami panjatkan ke khadirat Allah swt atas berkat dan rahmatnya
kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “ Perkembangan Pers Pada Masa Pra
Kemerdekaan Indonesia “. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas dari pengajar
mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
Dalam Penyusunan makalah ini kami merasa
masih banyak kekurangan - kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi,
mengingat akan kemampuan yang dimiliki penyusun. Untuk itu kritik dan saran
dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan penyusunan makalah
ini.
Dalam
penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga
kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya
kepada :
1. Bapak santoso
2. Teman kami santoso
3. Dan juga orang tua
Akhirnya penyusun berharap semoga Allah
memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan
dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
Daftar isi
BAB 1
Ø PENDAHULUAN. .
. . . . . . . . …………………………………………… 1
Ø Tujuan Makalah dan Rumusan Masalah……………………………………
2
BAB II
Ø Apa yang di maksud dengan hutan
bakau. . . . . . . . . . . ……………………… 3
Ø Ciri- ciri hutan bakau. . .
. . . . . . . . ……………………… 3
Ø Komponen ekosistim hutan
bakau. . . . . . . . . . . ……………………… 3
Ø Dampak ekspoitasi
berlebihan pada hutan bakau. . . . . . . . . . . …………
BAB III
Ø Kesimpulan Dan Saran . . . .
. . . …………………………………………… 8
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar
belakang
Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yang
terdiri dari dua kata, yaituoikos yang artinya rumah
atau tempat hidup, dan logos yang berarti
ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar
makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam
ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan
lingkungannya. Definisi ekologi seperti di atas, pertama kali disampaikan
oleh Ernest Haeckel (zoologiwan Jerman, 1834-1914). Ekologi adalah
cabang ilmu biologi yang banyak memanfaatkan informasi dari berbagai ilmu
pengetahuan lain, seperti : kimia, fisika, geologi, dan klimatologi untuk
pembahasannya. Penerapan ekologi di bidang pertanian dan perkebunan di
antaranya adalah penggunaan kontrol biologi untuk pengendalian populasi hama
guna meningkatkan produktivitas. Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki
interaksi organisme dengan lingkungannya. Pengamatan ini bertujuan untuk
menemukan prinsip-prinsip yang terkandung dalam hubungan timbal balik tersebut.
Dalam studi ekologi
digunakan metoda pendekatan secara rnenyeluruh pada komponen-kornponen yang
berkaitan dalam suatu sistem. Ruang lingkup ekologi berkisar pada tingkat
populasi, komunitas, dan ekosistem. Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan
ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan
biotik. Faktora biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan
topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari
manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan
tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan
ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan
kesatuan.
Faktor biotik adalah faktor hidup yang
meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen,
hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai
dekomposer. Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi
individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan
organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi,
saling mempengaruhi membentuk suatu sistemyang menunjukkan kesatuan. Secara
lebih terperinci, tingkatan organisasi makhluk hidup. Ada bermacam-macam
adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya, yaitu: adaptasi morfologi,
adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku.
B. Rumusan Masalah
Apa
yang di maksud dengan hutan bakau
Ciri-
ciri hutan bakau
Komponen
ekosistim hutan bakau
Dampak
ekspoitasi berlebihan pada hutan bakau
C. Tujuan Makalah
Menjelaskan
tentang hutan bakau
Menjelaskan
tentang Ciri- ciri hutan bakau
Menjelaskan
tentang Komponen ekosistim hutan bakau
Menjelaskan
tentang Dampak ekspoitasi berlebihan pada hutan bakau
Baab II
Pembahasan
Yang Di Maksud Dengan Hutan Bakau
Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di air payau,dan
dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya
di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik
di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan
lumpur yang dibawanya dari hulu.
Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang
mengakibatkan kurangnya abrasi tanah;salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami
daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang
bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat
khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.
Ciri- ciri Hutan Bakau
Hutan
Mangrove
Hutan mangrove juga disebut hutan bakau atau hutan air payau. Hutan bakau tumbuh subur di daerah pantai berlumpur yang terlindung, terutama pada daratan menjorok ke laut. Di hutan ini zonasi jenis-jenis pohon yang mendominasi hampir sejajar dengan garis pantai.
Adapun ciri-ciri hutan bakau sebagai berikut.
a) Jenis tanahnya berlumpur, berlempung, atau berpasir dengan bahan-bahan yang berasal
dari lumpur, pasir, atau pecahan karang.
b) Lahannya tergenang air laut secara berkala setiap hari sampai daerah yang hanya tergenang
saat pasang purnama.
c) Mendapat cukup pasokan air tawar dari darat yang berfungsi untuk menurunkan salinitas
serta menambah pasokan unsur hara dan lumpur.
d) Airnya payau dengan salinitas antara 2–22 ppm (1 ppm = 0,05%) atau asin dengan
salinitas mencapai 38 ppm.
Zona atau daerah hutan mangrove yang ke arah daratan,pada umumnya bercampur dengan rawa air tawar. Daerah semacam ini diduga ada kaitannya dengan salinitas dan sifatsifat tanah. Zonasi hutan mangrove di Jawa, Maluku, dan kemungkinan di pulau-pulau lainnya cenderung serupa dengan zona
hutan mangrove di Sumatra. Adapun hutan mangrove di Sumatra dibagi menjadi empat sebagai berikut.
a) Zona pionir, yang dirajai oleh api-api sering berasosiasi dengan perepat laut.
b) Zona burus, bakau, dan belabu/niri.
c) Zona nipah, yang juga sering berasosiasi dengan perepat laut.
d) Zona hutan rawa gambut.
Indonesia memiliki hutan bakau terluas di dunia, kemudian disusul Nigeria, Meksiko, dan Australia. Menurut perkiraan, luas hutan bakau di Indonesia mencapai 4,25 juta hektare (Giesen, 1993). Sekarang luas tersebut sudah mengalami penyusutan akibat berbagai alih fungsi lahan menjadi lahan pertambakan, pertanian, dan permukiman. Hutan bakau terluas di Indonesia terdapat di Papua (58%),
Sumatra (19%), dan Kalimantan (16%). Flora yang hidup di hutan bakau Indonesia meliputi 89
jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit, dan 1 sikas. Di hutan bakau terdapat 47 tumbuhan hutan bakau sejati, antara lain bakau, burus, palem, perepat, dan api-api.
Hutan mangrove juga disebut hutan bakau atau hutan air payau. Hutan bakau tumbuh subur di daerah pantai berlumpur yang terlindung, terutama pada daratan menjorok ke laut. Di hutan ini zonasi jenis-jenis pohon yang mendominasi hampir sejajar dengan garis pantai.
Adapun ciri-ciri hutan bakau sebagai berikut.
a) Jenis tanahnya berlumpur, berlempung, atau berpasir dengan bahan-bahan yang berasal
dari lumpur, pasir, atau pecahan karang.
b) Lahannya tergenang air laut secara berkala setiap hari sampai daerah yang hanya tergenang
saat pasang purnama.
c) Mendapat cukup pasokan air tawar dari darat yang berfungsi untuk menurunkan salinitas
serta menambah pasokan unsur hara dan lumpur.
d) Airnya payau dengan salinitas antara 2–22 ppm (1 ppm = 0,05%) atau asin dengan
salinitas mencapai 38 ppm.
Zona atau daerah hutan mangrove yang ke arah daratan,pada umumnya bercampur dengan rawa air tawar. Daerah semacam ini diduga ada kaitannya dengan salinitas dan sifatsifat tanah. Zonasi hutan mangrove di Jawa, Maluku, dan kemungkinan di pulau-pulau lainnya cenderung serupa dengan zona
hutan mangrove di Sumatra. Adapun hutan mangrove di Sumatra dibagi menjadi empat sebagai berikut.
a) Zona pionir, yang dirajai oleh api-api sering berasosiasi dengan perepat laut.
b) Zona burus, bakau, dan belabu/niri.
c) Zona nipah, yang juga sering berasosiasi dengan perepat laut.
d) Zona hutan rawa gambut.
Indonesia memiliki hutan bakau terluas di dunia, kemudian disusul Nigeria, Meksiko, dan Australia. Menurut perkiraan, luas hutan bakau di Indonesia mencapai 4,25 juta hektare (Giesen, 1993). Sekarang luas tersebut sudah mengalami penyusutan akibat berbagai alih fungsi lahan menjadi lahan pertambakan, pertanian, dan permukiman. Hutan bakau terluas di Indonesia terdapat di Papua (58%),
Sumatra (19%), dan Kalimantan (16%). Flora yang hidup di hutan bakau Indonesia meliputi 89
jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit, dan 1 sikas. Di hutan bakau terdapat 47 tumbuhan hutan bakau sejati, antara lain bakau, burus, palem, perepat, dan api-api.
Komponen Komponen Ekosistem Hutan Bakau
Fauna
yang terdapat di ekosistem mangrove merupakan perpaduan antara fauna ekosistem
terestrial, peralihan dan perairan. Fauna terestrial kebanyakan hidup di
pohon mangrove sedangkan fauna peralihan dan perairan hidup di batang, akar
mangrove dan kolom air. Beberapa fauna yang umum dijumpai di ekosistem mangrove
dijelaskan sebagai berikut:
·
Mamalia
Banyak mamalia terdapat di hutan mangrove
tetapi hanya sedikit yang hidup secara permanen dan jumlahnya terbatas. Hutan
mangrove merupakan habitat tempat hidup beberapa mamalia yang sudah jarang
ditemukan dan. Pada saat terjadinya surut banyak monyet-monyet (Macacus irus)
terlihat mencari makanan seperti shell-fish dan kepiting sedangkan kera bermuka
putih (Cebus capucinus) memakan cockles di mangrove. Indikasi pemangsaan
ini diperoleh dari sedikitnya jumlah cockles yang ditemukan di lokasi mangrove
yang memiliki banyak kera. Jika jumlah kera menjadi sangat banyak akan
mempengaruhi pembenihan mangrove karena komunitas ini menginjak lokasi yang
memiliki benih sehingga benih mati. Kera proboscis (Nasalis larvatus)
merupakan endemik di mangrove Borneo, yang mana ia memakan daun-daunan
Sonneratia caseolaris dan Nipa fruticans (FAO,1982) juga propagul Rhizophora.
Sebaliknya, kera-kera tersebut di mangsa oleh buaya-buaya dan diburu oleh
pemburu gelap. Hewan-hewan menyusui lainnya termasuk Harimau Royal Bengal (Panthera
tigris), macan tutul (Panthera pardus) dan kijing bintik (Axis
axis), babi–babi liar (Sus scrofa) dan Kancil (Tragulus sp.)
di rawa-rawa Nipa di sepanjang selatan dan tenggara Asia ; binatang-binatang
karnivora kecil seperti ikan-ikan berkumis seperti kucing (Felix viverrima),
musang (Vivvera sp. danVivverricula sp.), luwak (Herpestes sp.).
Berang-berang (Aonyx cinera dan Lutra sp.) umum
terdapat di hutan mangrove namun jarang terlihat. Sedangkan Lumba-lumba seperti
lumba-lumba Gangetic (Platanista gangetica) dan lumba-lumba biasa (Delphinus
delphis) juga umum ditemukan di sungai-sungai hutan mangrove, yaitu
seperti Manatees (Trichechus senegalensis danTrichechus manatus
latirostris) dan Dugong (Dugong dugon), meskipun spesies-spesies ini
pertumbuhannya jarang dan pada beberapa tempat terancam mengalami kepunahan.
·
Reptil
dan Ampibia
Beberapa spesies reptilia yang pernah
ditemukan di kawasan mangrove Indonesia antara lain biawak (Varanus salvatoe),
Ular belang (Boiga dendrophila), dan Ular sanca (Phyton reticulates),
serta berbagai spesies ular air sepertiCerbera rhynchops, Archrochordus
granulatus,Homalopsis buccata dan Fordonia leucobalia.
Dua jenis katak yang dapat ditemukan di hutan mangrove adalahRana cancrivora dan R.
Limnocharis. Buaya-buaya dan binatang alligator merupakan binatang-binatang
reptil yang sebagian besar mendiami daerah berair dan daerah muara. Dua spesies
buaya (Lagarto), Caiman crocodilus (Largarto cuajipal) dapat
dijumpai umum dijumpai di hutan mangrove, dan sebagai spesies yang berada dalam
keadaan waspada karena kulitnya diperdagangkan secara internasional. Caiman
acutus mempunyai wilayah geografi yang sangat luas dan dapat ditemukan di Cuba,
Pantai lautan Pasifik di Amerika Tengah, Florida dan Venezuela. Jenis buaya
Cuba, seperti Crocodilus rhombifer terdapat di Cienaga de Lanier dan bersifat
endemik. Aligator Amerika seperti Alligator mississippiensis tercatat sebagai
spesies yang membahayakan di Florida ( Hamilton dan Snedaker, 1984). Buaya yang
memiliki moncong panjang (Crocodilus cataphractus) terdapat di daerah
hutan bakau Afrika dan di Asia. Berbagai cara dilakukan untuk melindungi hewan-hewan
tersebut tergantung negara masing-masing misalnya di India, Bangladesh, Papua
New Guinea dan Australia mengadakan perlindungan dengan cara konservasi, ( FAO,
1982). Sejumlah besar kadal, Iguana iguana (iguana) dan Cetenosaura
similis (garrobo) pada umumnya terdapat di hutan mangrove di Amerika
Latin, dimana mereka menjadi santapan masyarakat setempat sebagaimana juga
jenis kadal yang serumpun dengan mereka di Afrika bagian barat (Varanus
salvator). Pada umumnya penyu merupakan sebagai mahkluk sungai yang
meletakkan telur-telur mereka pada pantai berpasir yang memiliki hutan
mangrove. Selain hewan-hewan tersebut ular juga dapat ditemukan di sekitar area
mangrove, khususnya padadataran yang mengarah ke laaut.
·
Burung
Pada saat terjadinya perubahan pasang surut
merupakan suatu masa yang ideal bagi berlindungnya burung (dunia burung), dan
merupakan waktu yang ideal bagi burung untuk melakukan migrasi. Menurut Saenger
et al. (1954), tercatat sejumlah jenis burung yang hidup di hutan mangrove yang
mencapai 150-250 jenis. Beberapa penelitian tentang burung di Asia Tenggara
telah dilakukan oleh Das dan Siddiqi 1985 ; Erftemeijer, Balen dan Djuharsa,
1988; Howes,1986 dan Silvius, Chan dan Shamsudin,1987. Di Kuba, terdapat
beberapa spesies yang menempati tempat atau dataran tinggi seperti
Canario del manglar (Dendroica petechis gundlachi) dan tempat yang lebih
rendah seperti Oca del manglar (Rallus longirostris caribaeus). Burung
yang paling banyak adalah Bangau yang berkaki panjang. Dan yang termasuk burung
pemangsa adalah Elang laut (Haliaetus leucogaster), Burung layang-layang
(Haliastur indus), dan elang pemakan ikan (Ichthyphagus ichthyaetus).
Burung pekakak dan pemakan lebah adalah burung-burung berwarna yang biasa
muncul atau kelihatan di hutan mangrove.
·
Sumber
Daya Perairan
Substrat
yang ada di ekosistem mangrove merupakan tempat yang sangat disukai oleh biota
yang hidupnya di dasar perairan atau bentos. Dan kehidupan beberapa biota
tersebut erat kaitannya dengan distribusi ekosistem mangrove itu sendiri.
Sebagai contoh adalah kepiting yang sangat mudah untuk membuat liang pada
substrat lunak yang ditemukan di ekosistem mangrove. Beberapa sumberdaya
perairan yang sering ditemukan di ekosistem mangrove dijelaskan sebagai
berikut:
a.
Ikan
Ikan
di daerah hutan mangrove cukup beragam yang dikelompokkan menjadi empat
kelompok, yaitu:
·
Ikan
penetap sejati, yaitu ikan yang seluruh siklus hidupnya dijalankan di daerah
hutan mangrove seperti ikan Gelodok (Periopthalmus sp.).
·
Ikan
penetap sementara, yaitu ikan yang berasosiasi dengan hutan mangrove selama
periode anakan, tetapi pada saat dewasa cenderung menggerombol di sepanjang
pantai yang berdekatan dengan hutan mangrove, seperti ikan belanak (Mugilidae),
ikan Kuweh (Carangidae), dan ikan Kapasan, Lontong (Gerreidae).
·
Ikan
pengunjung pada periode pasang, yaitu ikan yang berkunjung ke hutan mangrove
pada saat air pasang untuk mencari makan, contohnya ikan Kekemek, Gelama, Krot
(Scianidae), ikan Barakuda, Alu-alu, Tancak (Sphyraenidae), dan
ikan-ikan dari familia Exocietidae serta Carangidae.
·
Ikan
pengunjung musiman, ikan-ikan yang termasuk dalam kelompok ini menggunakan
hutan mangrove sebagai tempat asuhan atau untuk memijah serta tempat
perlindungan musiman dari predator.
b.
Crustacea dan Molusca
Berbagai
jenis fauna yang relatif kecil dan tergolong dalam invertebrata, seperti udang
dan kepiting (Krustasea), gastropoda dan bivalva (Moluska), Cacing (Polikaeta)
hidup di hutan mangrove. Kebanyakan invertebrata ini hidup menempel pada
akar-akar mangrove, atau di lantai hutan mangrove. Sejumlah invertebrata
tinggal di dalam lubang-lubang di lantai hutan mangrove yang berlumpur.
Melalui cara ini mereka terlindung dari perubahan temperatur dan faktor
lingkungan lain akibat adanya pasang surut di daerah hutan mangrove.
Biota yang paling banyak dijumpai di
ekosistem mangrove adalah crustacea dan moluska. Kepiting, Uca sp. dan berbagai
spesies sesarma umumnya dijumpai di hutan Mangrove. Kepiting-kepiting dari
famili Portunidae juga merupakan biota yang umum dijumpai. Kepiting-kepiting
yang dapat dikonsumsi (Scylla serrata) termasuk produk mangrove yang
bernilai ekonomis dan menjadi sumber mata pencaharian penduduk sekitar hutan
mangrove. Udang yang paling terkenal termasuk udang raksasa air tawar (Macrobrachium
rosenbergii) dan udang laut (Penaeus indicus , P. Merguiensis, P.
Monodon, Metapenaeus brevicornis) seringkali juga ditemukan di
ekosistem mangrove.
Semua
spesies-spesies ini umumnya mempunyai dasar-dasar sejarah hidup yang sama yaitu
menetaskan telurnya di ekosistem mangrove dan setelah mencapai dewasa melakukan
migrasi ke laut. Ekosistem mangrove juga merupakan tempat memelihara anak- anak
ikan. Migrasi biota ini berbeda-beda tergantung spesiesnya. Udang Penaeus
dijumpai melimpah jumlahnya hingga kedalaman 50 meter sedangkan Metapenaeus
paling melimpah dalam kisaran kedalaman 11-30 meter dan Parapenaeopsis terbatas
hanya pada zona 5-20 meter. Penaeid bertelur sepanjang tahun tetapi periode
puncaknya adalah selama Mei – Juni dan Oktober- Desember yang bertepatan dengan
datangnya musim hujan atau angin musim. P. Merquiensis setelah post
larva ditemukan pada bulan November dan Desember dan setelah 3 – 4 bulan berada
di mangrove mencapai juvenile dan pada bulan Maret sampai Juni juvenil
berpindah ke air yang dangkal. Setelah mencapai dewasa atau lebih besar, udang
akan bergerak lebih jauh lagi keluar garis pantai untuk bertelur dengan
kedalaman melebihi 10 meter. Waktu untuk bertelur dimulai bulan juni dan
berlanjut sampai akhir januari.
Molusca yang memiliki nilai ekonomis biasanya
sudah jarang ditemukan di ekosistem mangrove karena dieksploitasi secara
besar-besaran. Contohnya adalah spesies Anadara sp. saat ini
jarang ditemukan di beberapa lokasi ekosistem mangrove karena dieksploitasikan
secara berlebihan. Bivalva lain yang paling penting di wilayah mangrove
adalah kerang darah (Anadara granosa) dan gastropoda yang biasanya juga
dijumpai terdiri dariCerithidia obtusa, Telescopium mauritsii dan T.
telescopium. Kerang-kerang ini merupakan sumber daya yang penting dalam
produksi perikanan, dan karena mangrove mampu menyediakan substrat sebagai
tempat berkembang biak yang sesuai, dan sebagai penyedia pakan maka dapat
mempengaruhi kondisi perairan sehingga menjadi lebih baik. Kerang merupakan
sumberdaya penting dalam pasokan sumber protein dan sumber penghasilan ekonomi
jangka panjang. Untuk penduduk sekitar pantai menjadikan kerang sebagai
salah satu jenis yang penting dalam penangkapan di wilayah mangrove (Dedi,
2007).
Dampak ekploitasi
berlebihan pada ekosistem
sungai
Eksploitasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti
"pengusahaan; pendayagunaan; pemanfaatan untuk keuntungan sendiri";
"pengisapan"; "pemerasan (tenaga manusia)". Eksploitasi
dalam bahasa Inggris (exploitation) berarti "politik pemanfaatan yang
secara sewenang-wenang atau terlalu berlebihan terhadap suatu subyek, hanya
untuk kepentingan ekonomi semata-mata tanpa mempertimbangan rasa kepatutan,
keadilan, serta kompensasi kesejahteraan." Eksploitasi berlebihan terjadi
ketika sumber daya yang dikonsumsi telah berada pada tingkat yang tidak
berkelanjutan.
Tidak hanya ekosistem darat yang dapat mengalami eksploitasi berlebihan.
Ekosistem akuatik seperti laut, sungai, danau, dan perairan lainnya dapat
mengalami hal yang serupa. Eksploitasi sumber daya akuatik dapat berupa
penangkapan organisme laut secara berlebihan. Penangkapan organisme laut
(seperti ikan konsumsi maupun ikan hias) dan pengambilan terumbu karang dapat
menyebabkan terganggunya keseimbangan lingkungan di ekosistem laut.[2][3]
Organisme yang beragam hidup di terumbu karang. Namun, terumbu karang
demikian rapuh terhadap kerusakan karena pertumbuhannya lambat, mudah
terganggu, dan hanya hidup pada perairan yang dangkal, hangat, dan bersih.
Terumbu karang hanya dapat hidup pada perairan dengan suhu 18 —
30 °C. Kenaikan suhu sebesar 1 °C dari batas maksimum dapat menyebabkan
kerusakan terumbu karang. Rusaknya terumbu karang akan menyebabkan hilangnya
tempat tinggal bagi organisme yang ada pada ekosistem terumbu karang.
Ancaman lain yang dapat mengganggu ekosistem perairan adalah penggunaan
ekosistem perairan sebagai daerah wisata. Penetapan daerah wisata perairan
dapat dikatakan sebagai eksploitasi karena apabila daerah wisata tersebut tidak
dikelola dengan balk maka akan mengganggu keberadaan organisme yang ada di
ekosistem tersebut. Sebagai contoh, daerah wisata pantai di Bali atau wilayah
Jakarta bagian utara yang ekosistem alaminya telah terganggu oleh aktivitas
manusia yang berlebihan. Kedua pantai tersebut telah tercemar oleh sampah yang
dibuang pengunjung tempat wisata tersebut.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sungai adalah aliran air yang besar dan
memanjang yang mengalir secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir
(muara).
Ciri Cirinya
Menyesuaikan Dengan Tempatnya
Abiotik
Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungantempat hidup
Biotik
Biotik adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menyebut sesuatu
yang hidup (organisme).
SARAN
Ekosistim Sungai
Haruslah Kita Jaga
Sumber
:
http://ekosistem-ekologi.blogspot.co.id/2013/02/berkenalan-dengan-ekosistem-mangrove.html/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar